Program Studi Pengelolaan Sumber Daya Alam kembali menggelar panggung diskursus akademik yang krusial bagi ketahanan sektor perikanan nasional melalui Seminar Proposal oleh Siti Rokhmaniati (NPM: 250811100014). Mengangkat riset bertajuk “Penyebaran Enterocytozoon hepatopenaei (EHP) pada Udang Vannamei (Litopenaeus vannamei) di Wilayah Pantai Utara Jawa : Faktor Risiko dan Strategi Pengendalian”, pemaparan ini diselenggarakan pada hari Sabtu, 10 Januari 2026, pukul 11:00 WIB. Mengingat kapasitas Siti yang aktif bertugas sebagai Staf Balai Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan (BKHIT) Provinsi Jawa Timur, riset ini memiliki pijakan praktis yang sangat kuat dalam merespons ancaman patogen mikroskopis yang kini tengah merugikan petambak udang secara masif.
Kawasan Pantai Utara (Pantura) Jawa merupakan urat nadi produksi udang vaname di Indonesia, namun keberlanjutannya kini dibayangi oleh masifnya penyebaran parasit Enterocytozoon hepatopenaei (EHP). Berbagai literatur mikrobiologi akuakultur mengonfirmasi bahwa EHP adalah patogen jamur mikrosporidia intraseluler yang menyerang organ pencernaan (hepatopankreas) udang. Meskipun umumnya tidak menyebabkan kematian masal secara mendadak seperti virus mematikan lainnya, infeksi EHP memicu sindrom pertumbuhan lambat yang parah (Hepatopancreatic Microsporidiosis). Hal ini membuat konversi pakan (FCR) menjadi sangat membengkak dan merugikan petambak hingga miliaran rupiah. Melalui penelitiannya, Siti Rokhmaniati akan membedah faktor risiko penyebaran epidemiologis penyakit ini—mulai dari kualitas air tambak, manajemen dasar sedimen, hingga pergerakan benur antarwilayah—guna merumuskan strategi pengendalian biosekuriti yang paling efektif.
Desain riset yang dipaparkan dalam seminar proposal ini diharapkan mampu melahirkan kerangka mitigasi yang presisi, aplikatif, dan berbasis data di lapangan. Temuan riset ini nantinya diproyeksikan menjadi rujukan kebijakan yang sangat strategis bagi institusi seperti BKHIT Jawa Timur, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), serta asosiasi petambak udang dalam merancang tata kelola tambak yang lebih tangguh terhadap ancaman transboundary diseases. Oleh karena itu, kehadiran para pakar penyakit ikan, akademisi, dan pemangku kebijakan sangat krusial guna memberikan masukan konstruktif yang akan mempertajam arah penelitian demi menyelamatkan dan mempertahankan kejayaan industri udang vaname di pesisir utara Jawa.
Referensi Jurnal Pendukung Kajian:
-
Thitamadee, S., et al. (2016). Review of current disease threats for cultivated penaeid shrimp in Asia. Aquaculture, 452, 69-87. (Jurnal komprehensif yang membahas ancaman EHP sebagai salah satu penyakit utama perusak profitabilitas tambak udang di Asia).
-
Chaijarasphong, T., et al. (2020). Characterization of atypical Enterocytozoon hepatopenaei infections in Penaeus vannamei. Journal of Invertebrate Pathology. (Fokus pada karakterisasi infeksi EHP pada udang vaname dan mekanisme penghambatan pertumbuhannya).
-
Tang, K. F. J., et al. (2015). Enterocytozoon hepatopenaei (EHP) is a risk factor for acute hepatopancreatic necrosis disease (AHPND) and feces of EHP-infected shrimp are viable source of infection. Aquaculture, 442, 69-72. (Membahas penyebaran EHP melalui feses dan kaitannya sebagai faktor risiko penyakit komplikasi di tambak).
